Fenomena Dukun Cilik

Beberapa hari ini di Jombang (dusun Kedungsari desa Balongsari kec. Megaluh) dan sekitarnya sedang hangat-hangatnya pemberitaan mengenai fenomena si dukun cilik. Masyarakat dari sekitar Jawa Timur (bahkan ada yang dari luar Jawa) berbondong-bondong mendatangi si dukun cilik tersebut tentu saja dengan berbagai macam penyakit yg dibawanya. Banyak diantara mereka yg mengaku sembuh setelah diobat si dukun cilik yang sudah berpraktik sejak 17 januari lalu. Si dukun cilik tersebut bernama Ponari atau muhamad ponari tersebut memang baru berusia 9 thn, konon si kecil ini beberapa waktu yang lalu ”hampir” tersambar petir (begitu menurut beberapa sumber).

Setelah kejadian tersebut, si kecil dengan berbekal sebuah batu sekepalan tangan (ditemukan sewaktu ada sambaran petir) bisa menyembuhkan berbagai penyakit manusia. Sejak itu si Ponari kecil tidak bisa leluasa bersekolah layaknya anak SD seusianya, malah ada "target" puluhan ribu warga yang datang untuk berobat. Dalam satu hari ”panitia si dukun cilik” menyediakan 50 ribu lembar kartu antrian (50 ribu lho ya !!!), dan semuanya habis ludes, padahal dalam prakteknya si dukun cilik tersebut ”hanya” bisa melayani 10 ribu pasien sehari dari pukul 7 pagi s/d 4 sore. Tentu saja sisa pasien terpaksa menginap di rumah-rumah penduduk di sekeliling desa tersebut.
Saking banyaknya pasien yg berduyun-duyun dan berdesak-desakan, mengakibatkan korban meninggal dunia. Tercatat 4 org meninggal (data sampai senin malam), kebanyakan mereka meninggal dunia akibat terdesak/terinjak oleh sesama pasien yang sedang antrean.
Mengantisipasi keadaan agar tidak bertambah parah, pihak kepolisian berkordinasi dengan koramil dan perangkat desa mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah tersebut disepakati untuk sementara praktek si dukun cilik tersebut ditutup untuk sementara waktu. Juga diusulkan untuk memindahkan tempat praktek si dukun cilik tersebut ke tempat yang lebih representatif tapi pihak keluarga si dukun cilik tersebut menolak.
Lepas dari pro kontra yang terjadi dimasyarakat, hendaknya bisa kita ambil hikmahnya. Yang jelas berbondong-bondongnya masyarakat ke sana tidak lepas dari mahalnya biaya pengobatan yang ada saat ini, sehingga mereka "mencoba" alternatif yang murah meriah dengan harapan mendapatkan hasil yang maksimal. Berdasarkan keterangan mereka-mereka yang pernah ke sana, memang tidak semua pasien yang berobat ke sana bisa sembuh, tapi tidak sedikit dari pasien-pasien itu yang sembuh,
Hikmah lainnya adalah menggeliatnya ekonomi di desa tempat si dukun tiban tersebut. Masyarakat sekitar banyak yang mendapat berkah dari berdagang makanan, minuman, dll. Bahkan menurut keterangan salah satu wartawan ibukota yang saat itu meliput, parkir kendaraan bisa sampai 2 km, Wallahu a'lam bis showab.

Related Posts by Categories



1 comments:

Ummiega mengatakan...

:? Kita memang harus buka telinga selebar-lebarnya.

Posting Komentar

My Sponsor

Get 4Shared Premium! 100 Blog Indonesia Terbaik Adsense Indonesia